Bismillahirrahmanirrahim,
Istilah "politik adu domba" di jaman penjajahan Belanda sangat terkenal dalam kosa kata sejarah Indonesia. Bagaimana tidak, taktik politik tersebut sampai sekarangpun terus dianut dalam pemerintahannya. Contoh-contoh siasat adu-domba yang mengakar daging dalam struktur sosial Indonesia dapat kita lihat dari komentar seorang manusia Indonesia pada website http://freeacheh.info sebagai berikut:
***
Name:Pemburu GAM INDONESIA TERCINTA 08/16/08
E-mail or URL: ***
Subject: Nggak bakalan aceh ni merdeka broe...
Message:Hai teman-temanku yang dulunya orang utan pegang senjata..perlu kalian pikirkan jika kalian terus giat berjuang agar aceh ni merdeka,maka kalian sendiri lah yang menyengsarakan rakyat kalian...kalian hanya menjadikan rakyat kalian sebagai tumbal,sebagai tameng,sebagai objek mencari harta dan jabatan....silahkan saja kalian berdiplomasi dengan negara-negara yahudi untuk mengharapkan bantuan dan dukungan...yang jelas NKRI itu suatu negara kesatuan yang utuh yang tidak akan melepaskan Aceh dari kedaulatannya... selama masih ada pemberontak seperti kalian,Aceh nggak bakalan damai dan makmur..kalianlah yang arogan..yang selalu melakukan aksi kriminal mengatasnamakan rakyat.. Berapa banyak lagi rakyat yang kalian korbankan untuk kepentingan pribadi kalian.. tanam dalam otak kalian bahwa sampai kiamatpun aceh ini tetap bagian dari NKRI..... langkahi dulu mayat kami para pelindung NUSANTARA I N D O N E S I A ini kalau masih ingin merdeka....
***
Si Pemburu GAM ini, berusaha mengadu-domba bangsa Acheh. Memutar-balikkan fakta penyebab kesengsaraan bangsa Acheh, dan menginjak2 hak bangsa Acheh dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Adu-domba, dia pikir dengan menggunakan siasat penjajahan Belanda, dia mampu memenangkan simpati rakyat Acheh? Jangan mimpi, bahkan Belanda sendiri tak mampu mengalahkan Acheh dengan jurus mereka itu.
Mungkin dia dapat mengelabui sebagian penduduk Acheh saat ini. Saya tekankan lagi, penduduk Acheh! Tapi bagi bangsa Acheh, hasutan itu tidak mempunyai kekuatan sedikitpun.
***
Salam,
Saudara Pemburu GAM, terima kasih atas komentar yang anda sampaikan lewat website kami FreeAcheh.info
Perlu saudara ketahui, kemerdekaan suatu bangsa adalah hak mutlak masing-masing bangsa yang tidak bisa digugat oleh bangsa lainnya. Dalam hal ini, kemerdekaan Acheh adalah hak mutlak bangsa Acheh tanpa bisa diganggu gugat oleh siapapun, termasuk suku bangsa saudara.
Sebagaimana endatu-endata kami pernah menjalin hubungan internasional dengan berbagai bangsa merdeka lainnya di dunia, kami pun berhak penuh menjalin hubungan diplomasi dengan bangsa manapun yang kami rasa perlu tanpa sangkut paut dengan suku bangsa saudara.
Kritikan-kritikan yang anda sampaikan melalui website kami tersebut, menurut hemat kami adalah kritikan yang sungguh sangat berat sebelah. Dimana anda menilai arti perjuangan kami dengan apa yang anda lihat sedang terjadi dalam sistem pemerintahan ciptaan bangsa saudara yang tengah diterapkan di Acheh. Tidakkah anda sadar? Itu bangsa Anda yang sedang bermain di Acheh? Menerapkan sistem adu-domba dalam bangsa Acheh, berharap bangsa kami akan terpecah belah.
Betapa ironis untaian kalimat yang saudara susun ketika untaian tersebut justru dengan gamblangnya berbalik menunjuk ke saudara sendiri. Yang menyengsarakan rakyat Acheh? Anda tak perlu bermimpi untuk beradu argumentasi dengan bangsa Acheh tentang hal tersebut. Kami, yang telah mengalami sendiri penjajahan ini, tak dapat anda butakan lagi.
Siapa yang telah membunuh, memperkosa, menyaniaya bangsa kami?
Mencuri, merampok, dan mengekploitasi kekayaan bangsa kami?
Menipu, membodohi, dan menjajah generasi kami?
Jawabannya sangat jelas dan nyata INDON!!
Jadi janganlah anda terlalu bersemangat untuk mengelabui kami dengan politik adu domba peninggalan penjajah Belanda yang masih kuat dianut oleh pemerintahan negara anda.
Selanjutnya, saya ingin mengingatkan saudara untuk tidak berusaha mendahului takdir Allah, karena memang tak seorang pun mampu. Bukan atas kuasa seorang manusia, apalagi orang seperti anda, dalam memastikan nasib bangsa Acheh sebelum kiamat datang.
Wassalam,
Madinatul Fajar
***
Monday, August 18, 2008
Sunday, August 17, 2008
MoU commemoration
Bismillahirrahmanirrahim,
Tanggal 15 Agustus kembali berlalu. Pesta pora menyambut hari bersejarah itu telah berlalu, menyisakan 'perdamaian' dalam keseharianku.
Bagaikan air yang memabukkan, kata 'perdamaian' itu telah membutakan mata, memekakkan telinga, bahkan mematikan urat syaraf disekujur tubuhku.
Aku tak lagi mengerti arti sebuah perjuangan. Tak lagi paham makna sebuah kemerdekaan, aku bahkan lupa apa yang dimaksud dengan penindasan.
Yang penting bagiku adalah 'perdamaian', dan hari esok yang menjanjikan pesta pora selanjutnya. 17 Agustus. Ah, betapa melegakan ketika pesta pora itu datang lagi, aku akan meminum air yang memabukkan itu lagi. Terlena, terbawa imajinasi kosong melompong yang menjanjikan kenikmatan.
Jangan kau tanyakan padaku nasib bangsa Acheh, aku tak mengerti itu. Jangan pula kau ungkit-ungkit lagi masalah korban perang, aku tak pernah ingat ada perang.
Aku tak lagi ingat dulu kita pernah bersama, terjepit dalam selokan busuk ketika tentara-tentara itu mengejar kita dengan senjata siap tembak.
Aku pun sudah lupa ketika tentara-tentara itu masuk kampung dan memperkosa anak-anak remaja. Ohh..., apakah anakmu salah satu di antara gadis-gadis itu? Maaf kawan, itu sudah takdirnya, tak usah kita ungkit-ungkit lagi, belajarlah memaafkan dan lupakan.
Betapa damainya hari-hariku kini, ketika di setiap jengkal tanah Acheh di bangun markas-markas tentara untuk melindungiku dari 'musuh negara'
Lega rasanya ketika rekan-rekan lama yang membangkang 'perdamaian' ini ditumpas habis tanpa sisa. Bukankah mereka itu bodoh? Menolak kenikmatan 'perdamaian' dengan alasan klise 'kemerdekaan'?
Perdamaian... perdamaian... menggiringku masuk dalam lingkaran. Tak hanya aku, tapi juga rekan-rekanku yang setia akan 'perdamaian'. Digiring masuk kedalam lingkaran perdamaian sampai akhirnya terperangkap, berputar-putar.
Lingkaran perdamaian, lingkaran setan. Terang dan gelap tak lagi dapat dibedakan.
***
Tanggal 15 Agustus kembali berlalu. Pesta pora menyambut hari bersejarah itu telah berlalu, menyisakan 'perdamaian' dalam keseharianku.
Bagaikan air yang memabukkan, kata 'perdamaian' itu telah membutakan mata, memekakkan telinga, bahkan mematikan urat syaraf disekujur tubuhku.
Aku tak lagi mengerti arti sebuah perjuangan. Tak lagi paham makna sebuah kemerdekaan, aku bahkan lupa apa yang dimaksud dengan penindasan.
Yang penting bagiku adalah 'perdamaian', dan hari esok yang menjanjikan pesta pora selanjutnya. 17 Agustus. Ah, betapa melegakan ketika pesta pora itu datang lagi, aku akan meminum air yang memabukkan itu lagi. Terlena, terbawa imajinasi kosong melompong yang menjanjikan kenikmatan.
Jangan kau tanyakan padaku nasib bangsa Acheh, aku tak mengerti itu. Jangan pula kau ungkit-ungkit lagi masalah korban perang, aku tak pernah ingat ada perang.
Aku tak lagi ingat dulu kita pernah bersama, terjepit dalam selokan busuk ketika tentara-tentara itu mengejar kita dengan senjata siap tembak.
Aku pun sudah lupa ketika tentara-tentara itu masuk kampung dan memperkosa anak-anak remaja. Ohh..., apakah anakmu salah satu di antara gadis-gadis itu? Maaf kawan, itu sudah takdirnya, tak usah kita ungkit-ungkit lagi, belajarlah memaafkan dan lupakan.
Betapa damainya hari-hariku kini, ketika di setiap jengkal tanah Acheh di bangun markas-markas tentara untuk melindungiku dari 'musuh negara'
Lega rasanya ketika rekan-rekan lama yang membangkang 'perdamaian' ini ditumpas habis tanpa sisa. Bukankah mereka itu bodoh? Menolak kenikmatan 'perdamaian' dengan alasan klise 'kemerdekaan'?
Perdamaian... perdamaian... menggiringku masuk dalam lingkaran. Tak hanya aku, tapi juga rekan-rekanku yang setia akan 'perdamaian'. Digiring masuk kedalam lingkaran perdamaian sampai akhirnya terperangkap, berputar-putar.
Lingkaran perdamaian, lingkaran setan. Terang dan gelap tak lagi dapat dibedakan.
***
Thursday, August 14, 2008
My First Posting
Bismillahhirrahmanirrahim,
Blogger here I come! With all the madness in my head, and the craziness in my mind, I'm ready to spit out my angriness. O yes, I'm ready for that. For what I was born to be.
I am nothing but a FREEDOM fighter. My life is dedicated to my land, my ancestor land. And I will stand for it until the last drop of my blood dried from my vein.
Free Acheh. Free my land, free my people!!!
Madinatul Fajar
Blogger here I come! With all the madness in my head, and the craziness in my mind, I'm ready to spit out my angriness. O yes, I'm ready for that. For what I was born to be.
I am nothing but a FREEDOM fighter. My life is dedicated to my land, my ancestor land. And I will stand for it until the last drop of my blood dried from my vein.
Free Acheh. Free my land, free my people!!!
Madinatul Fajar
Subscribe to:
Posts (Atom)